BEBERAPA REAKSI DI “TROPENDRIFT” DITERJEMAH DI BAHASA INDONESIA

*

Penyair melakukan perjalanannya di Asia Selatan dalam berbagai bentuk. Dia memindahkan dirinya ke diri para orang tua dan anak-anak, tentara dan pasangan kekasih. Dia juga menulis tentang hubungan yang khusus antara ibu dan anak laki-lakinya dan antara ayah dan anak putrinya dan aspek tak terkendali dari hubungan khusus ini. Dalam hubungan antara “aku” dengan kekasihnya yang berasal dari daerah timur terdapat suatu sintesis. Jadi ini mengenai ‘pemindahan’ dalam arti seluas-luasnya. Dia mengadakan perjalanan melalui ruangan geografis. Sang waktu mencakup selain lama perjalanan juga masa lalu, masa sebelum kelahirannya. Bersama itu dia ‘memindahkan’ dirinya ke dalam diri orang-orang yang dia kenal atau yang dia dengar atau baca dalam cerita. Albert Hagenaars menerapkan ini dengan cara yang tidak eksplisit yang menimbulkan rasa ingin tahu. Ia menawan ‘rahasia’ dalam siklus yang sangat konsisten ini.
Kehidupan orang tua tercermin secara langsung pada kehidupan anak-anak mereka. Dan kita semua secara tidak langsung terikat dengan begitu banyak manusia yang telah atau akan terkena oleh peristiwa-peristiwa besar dalam sejarah. Kisah-kisah dari sejarah tersebut juga terus saja ditulis kembali, ‘dipalsu’ atau disembunyikan.
Formula-formula yang ingin menjelaskan dunia tidak memberikan penjelasan untuk penderitaan ini. Yang menonjol dalam puisi ini ialah bahwa Hagenaars secara teratur menekankan bentuk fiktif dari tokoh-tokoh yang dimunculkan. Bagaikan ‘aku’ merupakan tokoh sastra. Mereka merupakan hasil dari fakta, gambaran dan pemalsuan. Hal ini membuat mereka semakin tragis. Hal yang sebenarnya tidak dapat diungkapkan.
BN/DE STEM

*

Demikianlah ternyata perjalanan tersebut merupakan perjalanan ke dalam. Ke kehidupan sendiri, ke relasi sendiri, ke emosi sendiri, pandangan, kenang-kenangan dan kejujuran. Dan hal-hal ini tidak selalu sama baiknya..
Pengkhianatan, rahasia keluarga yang tidak dapat dibicarakan, perbuatan asusila dan emigran pada jalan penuh dosa ke masa depan baru, itulah arti dan asosiasi yang diproyeksikan oleh kalimat-kalimat yang disusun dengan baik ini pada latar belakang dari suatu masa lalu yang eksotis dan penuh gejolak.
Peperangan dan kekerasan merupakan tema pokok dalam kumpulan puisi ini. Kamp-kamp tahanan Jepang, jalan kereta api Birma, juga perang Vietnam dan kudeta Suharto, tetapi semua contoh dari sejarah manusia ini tidak hanya dikutip untuk membuktikan betapa jelek kemajuan yang didapat. Contoh-contoh ini membuktikan bahwa perdamaian bukanlah masalah keadaan tetapi tentang manusia yang telah sadar. Manusia yang telah mengalami penderitaan dan telah mengatasi penderitaan pribadi yang besar dan kecil tersebut.
Hagenaars juga ingin memperoleh pengakuan internasional dengan puisi-puisi yang indah ini. Karena itu kumpulan puisi ini bersifat dwibahasa, di sebelah kiri selalu terdapat terjemahan yang indah ke bahasa inggris oleh John Irons, di sebelah kanan diikuti oleh puisi aslinya dalam bahasa Belanda.
BRABANT CULTUREEL

*

Kumpulan puisi Tropendrift merupakan pencerminan dari suatu perjalanan ziarah melalui Asia Tenggara dan Zamrud Khatulistiwa. Perjalanan ini merupakan simbol pencarian manusia akan harmoni.
Di Borobudur, tempat suci agama Budha di pulau Jawa, Indonesia, Hagenaars menemukan suatu rancangan untuk struktur Tropendrift. ‘Di Borobudur anda melewati semua relief tersebut, yang dapat dibandingkan dengan relief kita, yang ada di komputer. Tetapi di titik tertinggi, di stupa teratas, tidak ditemukan apa-apa, dengan kata lain: tidak ada dewa yang disembah. Akhirnya berpulang ke pandangan sendiri.’
BRABANTS DAGBLAD

*

Dalam buku kumpulan puisi dwibahasa ini (Belanda dan Inggris) daerah tropis tidak lagi menjawab impian anak muda akan pohon palm, candi dan kera. Kaca, baja dan lalu lintas yang menderu kontras dengan mata yang mengintai di semak belukar, rasa harga diri ketimuran berlawanan dengan kesombongan barat. Terutama di Indonesia masa kini, rahasia keluarga yang lama tidak terungkap ikut berperan. Hal ini seringkali dilambangkan dalam diri tokoh sang ayah: berseragam yang menyeramkan atau ‘dengan mata kamp yang manis’. Di Borobudur kearifan Sang Budha nyaris tidak dapat menyembunyikan realitas : sampah dan bau busuk. Yang sangat terasa adalah suasana yang penuh ancaman dan ketakutan. Suatu kumpulan puisi yang mengejutkan.
BIBLION  

*

Saya tersesat dalam suatu jaringan relasi teman, wanita, teman wanita, ayah, ibu, kakek. Saya tidak dapat memahaminya. Tokoh ‘aku’ dalam puisi-puisi tersebut sering bercinta. Apakah hal ini digambarkan dengan indah? Tidak. Semakin banyak saya baca, semakin melelahkan. Ini disebabkan karena Hagenaars sering menggunakan bahasa kiasan yang tidak bisa saya pahami. Mungkin masalahnya ada pada diri saya.
MEANDER

*

Bagaimanapun juga, pada Albert Hagenaars tidak jelas apakah dia memang berbicara mengenai dirinya yang sekarang, karena dia kan memikul beberapa jiwa dalam dadanya, terbukti dari ‘di dalam kepalaku [...], tempat pria-pria yang adalah diri saya berpikir untuk tidur ‘ (dari De tempel van de poezie I). Yang menimbulkan rasa ingin tahu ialah penjalinan masa sekarang dengan masa lalu, suatu proses yang sering diterapkan secara  memikat oleh Hagenaars.
Albert Hagenaars juga merupakan jaminan akan gambaran-gambaran yang melekat dalam ingatan seperti: ‘Danau terlalu dalam bagi matahari. Kamu untuk saya’ dan ‘Saya adalah seorang pria muda dan tidak memeranginya’ dan ‘Ketika saya menanyakan masa lalu’ dan ‘Mata pisau masih bergetar di dalam batangnya. Kamu di dalam aku’ dan terutama yang tidak terlupakan ‘kejahatan yang tumpah dari tepi tempat air serani.’
Kumpulan puisi ini disusun dengan demikian kukuh sehingga puisi-puisinya hampir tidak dapat dibaca secara terpisah. Keseluruhannya mempunyai karakter yang menyerupai suatu kisah. Kumpulan puisi ini dapat dibaca seakan-akan sebuah laporan perjalanan yang puitis.
STROOM